-
Toraja Utara | BNRI NEWS
DI bawah langit Lembang Sadan Tiroallo, Kecamatan Sa’dan, Kabupaten Toraja Utara, denting tradisi kembali menggema. Prosesi adat Rambu Solo’ digelar megah di Tongkonan Tomalolo, Rabu (18/03/2026--28/03/2026) menjadi penghormatan terakhir bagi tiga orang mendiang dalam satu rangkaian upacara sakral.
Rambu Solo’, atau yang akrab disebut ma’pesta, bukan sekadar upacara pemakaman. Ia adalah peristiwa budaya yang merangkum nilai spiritual, solidaritas, hingga prestise sosial masyarakat Toraja.
Di sinilah duka dipeluk bersama, dan penghormatan diwujudkan dalam bentuk prosesi panjang yang penuh makna.
Sejak pagi, ratusan warga, kerabat, dan tamu dari berbagai daerah memadati kawasan Tongkonan Tomalolo. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan terakhir sang mendiang menuju puya, alam baka dalam kepercayaan masyarakat Toraja.
Rangkaian ritual berlangsung berlapis dan terstruktur. Dimulai dari Ma’palele To’mate, yakni pemindahan jenazah, hingga Ma’Rui Batu sebagai simbol gotong royong.
Lalu dilanjutkan Ma’Papa Lantang, pembangunan pondok bagi tamu, hingga Ma’Rampun Tedong, pengumpulan kerbau sebagai hewan kurban.
Puncak perhatian publik tertuju pada Ma’Pasilaga Tedong, tradisi adu kerbau yang digelar di arena Tongkonan Tomalolo.
Sorak sorai warga pecah saat kerbau-kerbau pilihan saling beradu kekuatan. Namun di balik itu, tersimpan makna mendalam: penghormatan terakhir bagi mendiang, sekaligus simbol status sosial keluarga.
“Semua prosesi ini telah dipersiapkan sekitar dua bulan. Biaya yang dikeluarkan lumayan banyak” ungkap ketua panitia, Eddy Batti , Kamis 19 Maret 2026.
Angka fantastis itu bukan tanpa makna. Dalam budaya Toraja, semakin besar pengorbanan yang diberikan, terutama melalui penyembelihan kerbau dan babi, maka semakin tinggi pula penghormatan kepada mendiang Alm Pela Batti/ Ne Jeni, Alm Papa Heni dan Ne Riko.
Rangkaian berlanjut dengan Ma’Palao atau penurunan jenazah ke rante, Ma’Batang dan Mantunu Tedong sebagai prosesi penyembelihan kerbau, hingga Ma’Kaburu, yakni penguburan sebagai penutup perjalanan panjang ritual adat ini.
Suasana khidmat terasa saat doa-doa dipanjatkan, berpadu dengan semangat gotong royong yang menjadi denyut kehidupan masyarakat Toraja.
Di tengah kemegahan prosesi, terselip nilai kebersamaan yang begitu kuat, mempertemukan keluarga besar lintas generasi dan wilayah.
Selama kegiatan berlangsung, aparat dari Polres Toraja Utara bersama Babinsa Kodim 1414/Tator turut mengawal jalannya acara, memastikan seluruh rangkaian berjalan aman dan tertib.
Rambu Solo’ di Sa’dan kali ini menjadi cerminan bagaimana tradisi tetap hidup di tengah modernitas. Bukan sekadar seremoni, tetapi warisan leluhur yang terus dijaga, mengikat duka, kehormatan, dan kebersamaan dalam satu napas budaya yang tak lekang oleh waktu.
( Amos )


